Lives. Stories and Ideas

Menghilang di pantai selatan. #ceritahoror

by Reska Donaga 2 months ago

Pada suatu hari di tahun 2008, di pagi yang dingin gue sedang dalam perjalanan menuju ke kampus, kebetulan ada kuliah Elektro Digital jam 7 pagi oleh salah satu dosen tergalak se-elektro. Sampai kelas ternyata uda 7.05, terlihat sepertinya semua udah didalam kelas, begitu gue masuk kelas dengan santainya dosen kesayangan gue Pak Sarif (sedikit disamarkan) yang terkenal disiplin dan keras bentak gue.
"Reska kamu telat, keluar! jangan ikut pelajaran saya"
"Ooo okay pak" Gue langsung keluar, yaa mau gimana lagi percuma juga dipaksa kalau ngga boleh juga. Kebetulan hari itu kuliah gue full sama Pak Sarif sampe jam 3 sore. Jadi budaya di tempat gue, kalau terlambat masuk kelas 1 menit aja, langsung ngga boleh ikut kuliah, tapi ada juga dosen yang santai-santai aja. Setelah dikeluarkan Pak Sarif, gue memutuskan untuk ke kantin aja, begitu sampai kantin gue sedikit kecewa, karena kantin masih sepi. Tapi ngga lama kemudian, datanglah Opik, Widodo dan Feri si anak Jakarta yang terlambatnya lebih parah daripada gue. Mereka bertiga adalah teman sekontakan bareng sama gue. Sambil garuk-garuk dan senyum-senyum sendiri mereka nyamperin gue, kemudian lanjut ngobrol dan bercandaan sambil ngatain Pak Sarif.

Jam 9, ada salah satu teman gue namanya Weda anak nyentrik dari jurusan sebelah. Anak ini badannya besar-sterek, brewokan, kulitnya hitam karena dia anak motor dan sekarang lagi hobi surfing keliling Bali dan sekitarnya. Dia ikut ngobrol di meja kita sampai pada akhirnya tercetus ide
"Masih jam 9 nih, gimana kalau kita ke pantai aja, nongkrong santai aja, sambil surfing"
"Pantai mana?" tanya Feri
"Bajul Mati aja, deket rumah mbahku", Opik nyamber jawab
Waduh namanya aja udah serem, "bajul mati". Setelah gue tanya-tanya ternyata ini adalah salah satu pantai di daerah pantai selatan, sekitar 5 jam naik motor dari kampus, katanya tak berpenghuni di daerah Malang ujung, lokasinya deket sama gua Cina, yang konon ceeritanya ini adalah tempatnya orang indonesia disiksa dan dibunuh sama penjajah Jepang jaman dahulu. Setelah berdiskusi lumayan singkat, berujung pada kesepakatan kita berangkat kesana naik tiga motor.

Kita akan berangkat berlima,Widodo, Feri, Opik, Weda dan gue. Weda dan Opik setuju bawa papan surfing masing-masing, terlihat udah menggantung di samping motor mereka. Akhirnya kami berangkat, ternyata perjalanannya ngga sampai 5 jam kita uda sampai disana, masih siang terik dan panas. Ternyata benar pantai bajul mati ini sepi banget, pantainya bersih, pasirnya putih, cuma ada 1 rumah semi permanen berdiri sendiri terbuat dari kayu-bambu dan sabut padi dengan sedikit genteng lawas di bagian atapnya, kita juga ngga tahu rumah ada penghuninya atau ngga. Pantai ini bukan pantai pariwisata, akses jalan menuju kesana pada jaman itu harus lewat hutan-hutan yang jalanannya masih bebatuan dan belum ada jalan umum permanen yang layak dilewati kendaraan. Jujur kalau malam hari ngga kebayang sih seremnya! (Sekarang uda jadi tempat wisata).

Sampai disana gue duduk aja, yang lain langsung buka baju kemudian lari loncat ke pantai dan ngga lama gue juga ikut kesana. Widodo memutuskan untuk jalan ke bukit untuk cari air bersih dan mau buang air besar katanya. Setelah main air dan surfing, kita menepi lagi, Widodo belum balik dari bukit. Kita lanjut ngobrol dan makan cemilan yang kita bawa dari rumah, topik obrolannya adalah membahas pantai selatan mulai dari pariwisata sampai cerita angker yang diakhiri dengan topik penguasa laut selatan Ibu Ratu dan Ny*i R*r* Kidul. Gue dan Opik adalah orang Jawa tulen dan kita tahu ada beberapa hal yang ngga layak dan ngga boleh untuk dijadikan obrolan apalagi sampai dibikin bercandaan. Nah beda dengan Weda dan Feri, Weda adalah salah satu temen gue dari Surabaya yang hidupnya rock n roll banget, anaknya nyentrik dan suka dengan hal-hal yang berbau adventure dan Feri adalah anak Jakarta yang kesasar ke kampus gue karena beasiswa prestasi. Selayaknya anak kota Jakarta di daerah, dia terkesan bodo amat sama hal yang begituan. Obrolan tentang topik itu terus berlanjut, gue dan Opik uda beberapa kali ingetin mereka "jangan ngomongin itu, ngga ilok, pamali" Setiap kali kita ingetin mereka becandaanya makin parah, yang paling parah Weda ngomong kalau ketemu mau diajak gituan. Wahh edan pokoknya!

Habis ngobrol lumayan lama, Weda, Feri dan Opik memutuskan ke pantai lagi. Weda dan Opik surfing dan Feri main-main air aja. Gue awalnya lagi males pengen santai-santai di pinggir pantai sambil nunggu Widodo. Ngga lama mereka main, akhirnya gue nyusul juga karena gue melihat mereka bertiga keliatan asik dan seru. Setelah gue jalan ke bibir pantai, ada yang aneh dan janggal, tiba-tiba gue merasa Feri terlihat semakin lama semakin semakin jauh dari bibir pantai, setiap ada ombak yang lewat dia langsung lewatin dengan cari menundukan badannya, karena gue merasa dia udah kejauhan gue teriak panggil namanya, kepalanya ngga noleh sama sekali, sampai di satu ombak yang dia lewatin, gue melihat kepalanya tiba-tiba hilang dari pandangan gue. Lahh! Di sisi lain gue lagsung sadar kalau Weda juga udah ngga ada, gue mulai khawatir disini. Lhooo!! Opik masih keliatan dan turun dari papan surfingnya. Tanpa basa-basi gue langsung tarik Opik mendadak
"Pik anak-anak hilang" gue shock dan bingung
"Hilang kemana Res?" Opik masih terlihat santai dan tenang.
Tadi aku liat Feri ngelewatin ombak trus kepalanya ngga keliatan lagi dan Weda juga ngga ada Pik"
"Hahh, seriuss?" Opik mencoba maju agak ketengah, mulai mencari, tapi tetap ngga ada tanda apa-apa.
Tiba-tiba papan surfing yang talinya seharusnya terikat di kaki Weda melipir ke pinggir pantai, kita berdua langsung kaget, jujur gue uda kaya mau nangis. Opik ambil papannya dan ngecek talinya, ternyata talinya lepas dari kaki Weda.

Gue uda mulai kepikiran yang aneh-aneh dan mulai membaca doa sebisa gue, Opik mulai komat-kamit entah apa yang dibaca dia. Gue sampai minta maaf sama siapapun yang kami sebut sebagai penjaga atau penguasa laut selatan. Waktu terus berjalan, ngga terasa mereka udah hilang hampir 5 menit dan itu 5 menit terlama yang gue pernah rasain. Selama itu kita cuma muter-muter di pantai dan gue uda mulai memikirkan hal terburuk yang kemungkinan bisa terjadi, sampai mempersiapkan kalimat yang harus gue ucapkan ke ortunya Weda dan Feri.

Sambil tetap melihat-monitoring-mencari di segala penjuru lautan, tiba-tiba muncul jauh di tengah lautan, terlihat seperti batok kelapa ngambang di bagian ujung kanan tempat kami berdiri. Itu muncul dibalik ombak besar dekat tebing, gue langsung teriak
"Pik itu apa?" setelah gue teriak, ternyata batok kelapa itu kepalanya Weda dan dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Gue langsung lari, yang gue kaget tiba-tiba Opik buka baju dan celana (naked) lari kenceng banget sambil teriak komat-kamit entah apa. Dia loncat dan berenang nyamperin Weda dan Feri di tengah laut.

Alhamdulillah mereka berhasil kita seret kembali ke pinggir pantai, Weda masih sadar bugar, Feri yang agak sedikit mengenaskan badannya lemes meskipun dia masih sedikit sadar. Gue langsung suruh Opik pakai baju-celana lagi, meskipun kami hidup sekontrakan, gue males juga liat punya Opik gondal-gandul gitu.

Di waktu yang sama, Widodo balik dari bukit. Sambil senyum-senyum dia bilang
"Opo'o rek? (kenapa)" dengan santainya
"Opo'o matamu iku!" Gue kesel liat mukanya, ngga tau kita lagi tegang
Akhirnya kita cerita sama Widodo dan dia juga kaget.
Setelah Weda dan Feri mulai stabil mereka mulai cerita. Bermula dari cerita Feri, menurut dia
"Aku itu memang mainan ombak, aku lewatin setiap ada ombak lewat. Tapi aku ngga sadar kalau aku udah ditengah laut dan semakin lama aku seperti terus ditarik ke tengah lautan dan aku tenggelam, setelah itu aku udah ngga inget lagi"

Dilanjutkan versi cerita Weda,
"Aku juga liat Feri jarak kita deketan, aku juga bingung karena setelah aku panggilin dia ngga noleh dan ngga ada respon sama sekali, kaya ngga denger gitu padahal aku uda teriak-teriak. Kemudian aku ikutin dia terus dan tarik dia dan aku baru sadar ternyata aku udah ditengah laut dan kita berdua tenggelam. Setelah itu aku berhasil pegangin Feri , aku berasa kita berdua ketarik-ketarik ombak di tengah laut gitu, dan tiba-tiba aku baru sadar kita uda di depan tebing"

Memang betul, jadi mereka berdua itu sebelum menghilang, posisi mereka persis di depan kita (di tengah). Tapi sewaktu muncul kembali, mereka ada di sebelah kanan sekitar +100 meter mendekati tebing. Akhirnya obrolan kita mengerucut pada kesimpulan ini kenapa?
Yes salah satu hal yang kami sadari adalah pembicaraan mereka tentang penguasa pantai ini sebelumnya. Yang menurut gue dan Opik, itu ngga boleh dan ngga pantes. Akhirnya mereka sadar, dan Feri sampai menyembah di pasir pantai dan minta maaf, entah minta maaf sama siapa. Meskipun sudah mengakui kesalahannya, tetap saja mereka tetap mengakhirinya dengan becandaan "mungkin awalnya ratu pengen ambil aku, tapi begitu diliat dia emoh karo aku." Weda dengan santainya
"Bisa jadi Wed, sebetulnya Ratu itu maunya sama aku, putih, pinter dan ganteng. Tapi tiba-tiba karena kamu ikut tenggelam dan kebetulan kamu bukan selera dia, jadi dia memilih untuk ngelepasin kita berdua". Lanjut Feri, diikuti dengan tertawa dengan santainya.

"Kampet kalian ini, gue udah ngga mau balik ke pantai lagi, Yuk pulang ajaa" Gue udah ngga semangat lagi. Akhirnya semua setuju dan kita pulang. Alhamdulillah sampai rumah aman dan lancar.
Cerita Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

menu-circlecross-circle