Lives. Stories and Ideas

Berdamai dengan kecacatan/ kelemahan

by Reska Donaga 3 weeks ago

Ini Reska, sore ini pantai canggu cuacanya masih panas. Setelah selesai meeting terakhir jam 4 sore, gue, bojo dan Lanang memutuskan untuk ke pantai menikmati sunset, matahari turun dari ujung pulai Bali. Langit mulai berwarna kuning dan oranye, angin makin bertiup kencang ombak juga mulai bersuara menderu. Sambil tiduran dengan bersilau , gue mencoba menutupi terik matahari ke mata gue.

Secara ngga langsung gue memandangi bentuk kaki gue yang aneh, ada bekas jaitan panjang yang akan permanen berada disitu. Itu bekas dua kali operasi gara-gara kebodohan gue masa lampau. Iya, kecelakaan bodoh di 2007 yang menyebabkan gue harus merasakan masa kelam di seluruh tahun itu. Tapi tulisan uni bukan tentang itu, tapi tulisan ini tentang kondisi kaki gue yang disaat melihatnya selalu berhasil setiap mengingakan gue flashback ke 13 tahun yang lalu pas kejadian itu terjadi dan semua yang gue lalui setelahnya.

Singkat cerita 7 bulan setelah operasi patah tulang pertama (2017), gue akhirnya dinyatakan sembuh dan bisa jalan normal tanpa krug. Sangat senang karena selama 7 bulan setelah memakai krug untuk berjalan, kuliah dan semua kegiatan lainnya gue sadar bahwa bisa berjalan adalah sebuah anugrah yang besar dari Tuhan. Di bulan yang sama ada turnamen futsal di kampus, tentu saja sebagai dalah satu striker andalan jurusan, gue harus ikut kompetisi itu. Di hari pertandingan, sebetulnya teman-teman gue udah ingetin untuk ngga ikut karena kondisi gue masih recovery dari patah tulang. Tapi gue tetep ngotot, akhirnya gue tetap bermain sebagai striker di pertandingan itu. Di menit awal semua berjalan lancar, gue malahan masih bisa mencetak gol. Entah di menit berapa ada tendangan sudut Ardiyan (nama temen gue) mengambil inisiatif untuk mengambilnya, begitu diumpan ternyata umpan itu pas dengan posisi gue, tanpa ragu-ragu dan berpikir untuk heading bola ke gawang, entah kenapa gue mengambil ancang-ancang untuk tendangan salto. Tendangan salto gue berhasil dan gol, tapi ternyata posisi jatuh gue ngga tepat. Bekas kaki gue yang patah menyangga seluruh badan dan tiba-tiba keluar bunyi "klek" lumayan kencang.

Sakit Rasanya!

Semua mendengarnya dan langsung menghampiri gue, di satu sisi gue takut tulang gue patah lagi tapi begitu gue gerakan ternyata masih bisa dan rasa sakit itu terasa di bagian persendian dengkul gue. Disaat gue mencoba berjalan rasanya semakin menjadi, akhirnya gue memutuskan untuk berhenti dari pertandingan itu. Ngga ada action item apa-apa setelah kejadian itu, gue ngga eriksa ke dokter, dukun oijet atau sangkal putung jadi gue biarin aja. Sampai akhirnya kaki gue yang patah harus patah lagi karena kebodohan gue yang lainnya, sekali lagi tulisan ini bukan tentang itu.

Di tahun 2011, gue sudah lulus dan sudah bekerja. Semenjak kejadian itu dan operasi patah tulang gue yang kedua selesai, gue jadi lebih berhati-hati dalam menggunakan bekas kaki gue yang patah. Salah satunya, gue jarang bawa barang yang terlalu berat atau menumpu menggunakan kaki tersebut. Kejadian bunyi atau bunyi "klek" yang sakit itu sebetulnya muncul beberapa kali setelah kejadian futsal itu, tapi lama-kelamaan gue tahu kapan itu bisa muncul dan bagaimana meredakan sakitnya. Jadi gue ngga pernah berinisiatif untuk ke dokter untuk periksa lebih lanjut.

Tahun 2013, gue pindah ke perusahaan oil and gas service yang dari dulu gue idamkan semenjak kuliah. Perusahaan yang bisa membuat gue keluar dari pulau Jawa, dan bisa kerja di luar negeri. Di perusahaan ini ternyata ngga hanya otak yang dibutuhkan, tapi juga fisik yang kuat. Karena disaat onboard (Offshore/Onshore) gue diwajibkan kerja shift dan banyak mengeluarkan energi fisik untuk install tools atau hanya sekedar setting tools. Beberapa kali disaat pekerjaan gue memang betul-betul melelahkan, gejala itu selalu kambuh dan semakin lama terasa semakin sakit. Hampir setiap onboard, sakit itu kambuh dan mulai mempengaruhi kulaitas kerja gue.

Tahun 2014, gue sedang di base Balikpapan, entah ada pemikiran darimana akhirnya gue memutuskan untuk ke rumah sakit di kota itu. Gue ke bagian orthopedi, setelah konsultasi ternyata gue disarankan untuk MRI. Semua saran gue lakukan dan akhirnya tes MRI keluar.

Kata dokter, tendon kaki gue mengalami xxx, atau dislokasi tingkat xx. Dokter bilang ini bisa menyebabkan gue lumpuh dan bisa sering kambuh jika ngga ditangani dengan serius. Ada dua pilihan yang dokter berikan, satu adalah operasi menyabung selaput xx tendon dan yang kedua adalah mantain dengan benar tanpa operasi. Tentu saja, gue lebih memilih yang kedua tapi dokter bilang pantangannya ada banyak, salah satunya gue udah ngga boleh bermain sepak bola, basket, lari atau olahraga apapun yang memberikan tekanan atau bisa bertumpu pada kaki selamanya, gue shock!

Gue pulang tanpa kesimpulan dan jawaban. Butuh waktu lebih dari seminggu gue mikirin tentang apa yang harus gue lakukan, sampai tiba-tiba gue berandai-andai jauh kedepan, dimana gue berpikir kalau gue punya anak nanti gue ngga bisa main bola sama dia, lari-larian atau jadi lumpuh ngga bisa jalan lagi.

Dilema!

Tapi setelah menimbang semuanya akhirnya gue memilih opsi kedua. Mulai saat itu, gue stop semuanya. Sampai pada satu sisi gue bersyukur bisa keluar dari perusahaan yang gue cita-citakan pada saat itu dengan nyaman dan tenang, secara ngga langsung gue ngga harus bekerja secara fisik lagi. Setidaknya cita-cita gue udah tercapai.

Saat ini, gue menyadari mungkin itu bukan keputusan gue yang terbaik, mungkin gue seharusnya operasi di tahun itu dan sekarang udah bisa jalan dan olahraga normal kembali. Tapi setelah keluar dari rumah sakit itu, gue sadar banyak hal yang harus gue ubah dari hidup gue, mulai dari pekerjaan dan lifestyle gue. Setelah lima tahun, gue mantain kaki gue dengan sangat hari-hati. Beberapa kali gue tetap memakasa main futsal/sepakbola, lari-lari dan selalu diakhiri dengan kekambuhan yang lumayan menyakitkan. Memang sakit tapi mungkin Tuhan dan semestanya memang mengharuskan gue untuk merasakannya agar selalu ingat padaNYA. Dan tulisan ini juga untuk mengingatkan gue dan mengurangi rasa sedih dan kecewa yang gue rasakan setiap gue melihat kaki gue sendiri. Yes, Life must go on!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

menu-circlecross-circle